Lumpur Lapindo ternyata telah terbukti mengandung logam berat yang membahayakan keberlanjutan kehidupan makhluk hidup. Apakah ancaman punahnya makhluk hidup ini juga menjadi perhatian PT. Lapindo? Rasanya, tidak…
__________________________
Analisa lumpur Lapindo yang diambil pada titik di sekitar 200 meter dari pusat semburan menunjukkan adanya logam berat berbahaya jauh di atas ambang batas yang dipersyaratkan dengan analisa total logam berat. Misalnya Cd 10,45 ppm, Cr 105,44 ppm, As 0,99 ppm, dan Hg 1,96 ppm.
Sedangkan hasil analisa mikrobiologi lumpur yang baru satunya-satunya dilakukan oleh Indonesian Center for Biodiversity and Biotechnology (ICBB) ini menunjukkan adanya Coliform, Salmonella dan Stapylococcus aureus di atas ambang batas yang dipersyaratkan.
Menurut Santosa, semua bakteri itu masuk dalam kelompok bakteri patogen. Sehingga menimbulkan konsekuensi ke depan bahwa dalam kondisi ekstrim apakah bakteri patogen bisa berubah sifat atau mengalami mutasi. Apakah mutasi negatif atau positif bagi bakteri itu. Mutasi negatif bagi bakteri bila kemampuannya untuk menginfeksi menjadi mati (menjadi tidak berbahaya bagi lingkungan), dan mutasi positif baginya bila semakin meningkat kemampuan infeksinya (menjadi berbahaya bagi lingkungan).
”Ini yang perlu kita perhatikan di masa depan. Walaupun saya juga yakin data lumpur itu tidak berasal pusat semburan di kedalaman, tapi karena lumpur sudah bercampur dengan sekitarnya,” jelasnya. ”Yang kami pertanyakan, mengapa bakteri itu bisa hidup di lumpur itu. Dan apa pengaruhnya terhadap lingkungan dan kesehatan ke depan,” lanjutnya.
Sedangkan pada analisa awal saat semburan lumpur pertama terjadi, bakteri itu tidak bisa hidup. Bakteri itu kemungkinan berasal dari lingkungan sekitar, karena hujan, atau tanggul yang bercampur dengan lumpur. ”Meski penelitian belum banyak dilakukan, namun kita perlu mewaspadai bahwa ada bakteri patogen di lumpur Lapindo, walau wajar bila bakteri itu ada di manapun,” ungkapnya lagi.
Pada analisa awal saat semburan lumpur baru terjadi, logam berat juga sangat jarang ditemukan. Data KLH juga menunjukkan bahwa logam berat tidak ada atau kecil jumlahnya, jauh di bawah ambang batas yang dipersyaratkan. Begitu pun pernyataan timnas, bahwa lumpur tidak mengandung logam berat. Dalam arti nilai logam berat melalui TCLP, semua merujuk bahwa kandungan logam berat di lumpur itu tidak signifikan atau tidak berdampak pada lingkungan atau diasumsikan tidak ada.
Santosa mengatakan bahwa hasil analisa KLH atau timnas pada bulan September itu sama dengan data hasil analisa Pusat Penelitian Tanah IPB pada awal terjadinya semburan lumpur. Dimana menyebutkan bahwa tidak ada potensi logam berat.
Namun saat Andreas Santosa mempresentasikan hasil analisa lumpur yang mengandung logam berat dan bakteri patogen di atas ambang batas itu di hadapan KLH dan timnas, keduanya tidak membantah data tersebut. Meski demikian pendapat adanya kandungan zat-zat berbahaya itu harus secara hati-hati disampaikan.
Sehingga pihak Andreas Santosa bersama tim penelitinya belum mampu mengatakan kalau lumpur Lapindo berpotensi menyebarkan logam berat. Demikian juga pihaknya menghimbau agar pemerintah dan timnas jangan terlalu dini mengatakan bahwa lumpur Lapindo tidak mengandung logam berat atau jauh di bawah ambang batas yang dipersyaratkan. ”Perlu hati-hati dalam pernyataan. Hal itu dikarenakan adanya tren dugaan kenaikan logam berat. Dalam arti komposisinya dalam lumpur Lapindo sekarang ini lebih tinggi dari sebelumnya,” tegas Dosen IPB itu.
Sementara itu data KLH saat itu menyatakan bahwa pH lumpur adalah3-4. Sedangkan data dari Tim Peneliti ICBB menunjukkan lumpur ber- pH 9,18. Sehingga jelas ada perberbedaan karakteristik lumpur sebelumnya dengan lumpur yang sekarang.
Adanya data hasil analisa lumpur Lapindo yang fluktuatif itu mungkin dipengaruhi dari mana semburan lumpur berasal. Lumpur keluar karena terdesak. Posisinya tidak jelas. Sehingga kemungkinan juga setelah sekian lama, lumpur yang keluar bukan logam berat lagi. Yang jelas menurut Santosa lagi, data yang sekarang mengandung logam berat yang signifikan. ”Sehingga kita perlu mengambil tindakan-tindakan khusus supaya logam ini tidak menimbulkan bahaya ke lingkungan,” simpulnya.
Menurut Andreas Santosa, lumpur Lapindo telah mengakibatkan hilangnya vegetasi, flora fauna, berpotensi mencemari air permukaan, sumber air dan air tanah karena logam berat, dan bila lumpur meluas akan terjadi perubahan iklim mikro. Bila logam-logam berat itu mencemari perairan umum tersebut maka akan terjadi peningkatan risiko terhadap kesehatan manusia, yaitu pada syaraf, hati, ginjal, kanker dan sebagainya. Yang perlu diperhatikan juga adalah rusaknya sanitasi dan kualitas udara yang akan mengakibatkan terjadinya beberapa penyakit seperti Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), demam berdarah dan diare.
Sumber: beritabumi.or.id