Archive for May, 2008

30
May
08

Masyarakat Sipil Desak SBY Pecat Aburizal Bakrie

Menurut putusan Majelis Hakim Bernomor 384/PDT.G/2006/PN.JKT.PST tanggal 27 November 2007 menyebutkan bahwa semburan lumpur panas Sidoarjo disebabkan oleh kekurang hati-hatian pengeboran yang dilakukan oleh Lapindo, karena belum terpasang casing atau pelindung secara keseluruhan. Fakta itu rupanya ingin disembunyikan oleh Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Aburizal Bakrie. Dalam sebuah wawancara dengan SCTV pada tanggal 28/02/2008, sang menteri mengatakan Lapindo di dalam pengadilan dinyatakan tidak bersalah.

________________________________________________

Dari kenyataan tersebut terlihat jelas bahwa kasus Lapindo akan semakin sulit diselesaikan bila Aburizal Bakrie masih berada di lingkar kekuasaan istana. Bukan sekali ini saja, sang menteri dan orang terkaya di Indonesia itu membela Lapindo

Untuk itulah kelompok masyarakat sipil Indonesia yang terdiri dari Jatam, Kontras Jakarta, Walhi, Satu Dunia, LBH Masyarakat, GMLL, UPC, Imparsial, GMLL, PMKRI, GMS, Berita Bumi, SKMP, GMS, YLBHI, ICEL, UPLINK, Kontras Surabaya, KPMSI pada konfrensi persnya di Jakarta (29/5) mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk segera memecat Aburizal Bakrie dari kabinet. Alasannya, jika Aburizal Bakrie tidak segera dipecat maka kasus lumpur Lapindo akan semakin sulit diselesaikan secara adil karena akan selalu menghadapi serangkaian hambatan dari orang terkaya di Indonesia itu.

Beranikah SBY memecat orang terkaya di Indonesia itu dari kabinetnya? Akankah SBY lebih memilih melindungi Aburizal Bakrie yang sudah menjadi orang terkaya di Indonesia daripada membela korban lumpur Lapindo yang kini telah menjadi miskin akibat malapetaka itu?

29
May
08

Pernikahan Mewah Adinda Bakrie & Bencana Kelaparan Korban Lapindo

Keterlaluan! Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan biaya pernikahan keponakan orang terkaya di Indonesia Aburizal Bakrie. Bagaimana tidak, Jika dihitung-hitung, biaya pernikahan Adinda Bakrie – keponakan Aburizal bakrie bulan Juli depan, setidaknya bisa memberi makan para pengungsi korban Lapindo di Pasar Baru Porong selama 8 bulan lebih.

***

Sumber; jatam.org

Minggu lalu, beberapa milis mengabarkan rencana pernikahan  Adinda Bakrie, keponakan Aburizal Bakrie. Mereka adalah keluarga pemilik PT Lapindo Brantas. Tepat dua tahun lalu lubang pengeboran migas Banjar panji-1 – milik mereka, menyemburkan lumpur panas dan menenggelamkan 12 desa di Porong Sidoarjo.

Dikabarkan pernikahan yang akan dilakukan bulan Juli itu sedikitnya menghabiskan  Rp 2 Milyar. Bandingkan angka ini dengan kebutuhan makan pengungsi korban Lapindo Brantas di Pasar baru Porong yang jumlahnya lebih 2000 orang.  Menurut Gerakan Menutup Lumpur Lapindo, tiap harinya warga membutuhkan sekitar Rp 8 juta untuk makan.

Awal bulan Mei, PT lapindo Brantas menghentikan jatah makan pegungsi di pasar baru Porong. Jika dihitung-hitung, biaya pernikahan keponakan Ical  itu  setidaknya bisa memberi makan para pengungsi  selama 8 bulan lebih. (JM)

29
May
08

Hari ini Dua Tahun Lapindo Menenggelamkan Sidoarjo

Mereka dihinakan, tanpa daya…

Ya tanpa daya…..

(Kesaksian, Iwan Fals-Kantata Takwa)

Hari ini, 29 Mei 2008, dua tahun sudah, saudara-saudara kita ini menjadi pengungsi. Sebagian dari saudara-saudara kita itupun kini ada yang menjadi pengemis bahkan ada yang mengalami ganguan jiwa akibat beban kehidupan yang terlalu berat setelah tanah, rumah, harta dan harapan mereka terkubur lumpur Lapindo. Namun tak terasa, dua tahun sudah pula Lapindo membohongi kita semua.

——————————————————

Pada awalnya, mereka (Lapindo) bilang kepada warga sidoarjo, bahwa perusahaannya adalah sekedar perusahaan pakan ternak, bukan perusahaan pengeboran.

Selanjutnya, para Insinyur dari ITS yang telah dibayar menjadi konsultan AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan) oleh Lapindo bersikeras mengatakan bahwa perusahaan tambang Lapindo boleh beroperasi di kawasan yang kini telah menajdi kubangan lumpur itu. Padahal sebelumnya Peraturan Daerah (Perda) tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Sidoarjo menyebutkan bahwa kawasan itu sejatinya hanya diperbolehkan untuk kawasan pemukiman dan budidaya pertanian.

Kini dua tahun sudah berlalu, warga Sidoarjo telah kehilangan segalanya termasuk harapannya kepada pemerintah rejim neoliberal Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) – Jusuf Kalla (JK) yang justru meninggalkan korban Lapindo dan membiarkannya berjuang sendiri berhadapan dengan korporasi besar.

Ya..dua tahun telah berlalu. Dua tahun adalah waktu yang terlalu singkat bagi Lapindo untuk menenggelamkan Sidoarjo. Dua tahun adalah waktu yang sangat singkat bagi Lapindo untuk memaksa dwi tunggal komprador SBY-Kalla untuk bersujud kepadanya. Namun, dua tahun adalah waktu yang terlalu lama bagi kita semua untuk membiarkan kebohongan Lapindo. Dua tahun adalah waktu yang terlalu lama untuk membiarkan kuasa dan wibawa negara dilucuti oleh Lapindo.

28
May
08

Doa untuk SBY-JK

Dua tahun lumpur Lapindo menenggelamkan sebagian kota Sidoarjo, Jawa Timur. Ribuan orang telah kehilangan nafkah dan hak-haknya. Sementara, Lapindo justru hendak berlari dengan menjadikan Tuhan sebagai kambing hitam dari persoalan tersebut. Di sisi lain pemerintah yang seharusnya melindungi rakyatnya pun seperti hilang di telan bumi meninggalkan korban Lapindo untuk berjuang sendirian. Di tengah ketidakberdayaan korban seperti itulah Doa menjadi salah satu kekuatan yang cukup besar untuk merebut kembali hak-hak korban yang telah hilang dirampas.

___________________________________

Ya Tuhan,

Engkau Maha Mengetahui Segalanya…

Hamba-Mu ini yakin Engkau mengetahui bahwa keserakahan manusia telah merubah tanah yang Engkau amanatkan kepada saudara-saudara kami di Sidoarjo menjadi lautan lumpur…

Meskipun kekuatan modal dan kekuasaan di negeri ini memposisikan-Mu sebagai ‘kambing hitam’ dari semburan lumpur itu, namun kami tetap yakin bahwa itu bukan karena tindakan-Mu

Karena Engkau adalah dzat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, kasih sayang-Mu jauh lebih besar daripada murka-Mu…

Karena Engkau pernah berkata melalui Nabi-Mu bahwa manusialah yang membuat kerusakan di muka bumi ini dan bukan Engkau.. Engkau adalah dzat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang


Ya Tuhan,

saudara-saudaraku telah teruisir dari tanah mereka…

diantara mereka telah menjadi pengemis…

mereka telah kehilangan segalanya…

Hanya kepada-Mu lah, satu-satunya tempat kami, mereka dan seluruh manusia ini mengadu serta berharap


Ya Tuhan,…….

Hamba-Mu yang lemah ini juga yakin bila Engkau mengetahui bahwa para pejabat negeri ini telah meninggalkan saudara-saudara kami yang menjadi korban lumpur Lapindo …

Para pejabat negeri ini yang seharusnya membela rakyatnya, justru membiarkan saudara-saudara kami berjuang sendiri mengahadapi kekuatan modal yang begitu besar…

Ya Tuhan kami,

jangan biarkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla (JK) terus-terusan mendzalimi saudara-saudara kami yang menjadi korban lumpur Lapindo….

hentikan kedzaliman SBY-JK terhadap rakyatnya seperti Engaku menghentikan kedzaliman Firaun terhadap rakyatnya….


Ya Tuhan kami,

bukankah Engaku telah berjanji akan selalu menolong orang-orang yang tertindas?

Bukankah Engkau berjanji akan mengabulkan doa hamba-hamba-Mu yang tertindas dan teraniaya?

Ya Tuhan, Engkau maha benar…

Untuk itu, tolonglah saudara-saudara kami di Sidoarjo yang sedang menghadapi kedzaliman Firaun (penguasa politik) baru dan kesombongan Korun (penguasa ekonomi)…

Ya Tuhan, bebaskanlah saudara-saudara kami di Sidoarjo…

Ya Tuhan, kabulkanlah doa kami ini..

Amien……….

27
May
08

Inilah Lembaga Kuangan dan Bank yang Mendukung Lapindo

Membenci dan mengutuk keserakahan Lapindo yang menyebabkan kehancuran ekosistem Sidoarjo tidaklah cukup. Lho kok? Eh siapa tahu kita justru ikut membantu Lapindo melalui uang kita yang kita simpan di Bank dan lembaga keuangan yang ikut membantu Lapindo. Nah, tidak ada salahnya bila kita melakukan check apakah uang kita ada dalam bank-bank dan lembaga keuangan tersebut.

____________________________________________________________________________

sumber: jatam.org

Pemilik PT Lapido Brantas tak sendiri, mereka ditopang oleh para pemegang saham juga bank dan lembaga keuangan yang memberi pinjaman uang, baik dari dalam dan luar negeri. Mereka tersebar dari 11 negara. Bank-bank ini juga mendapat keuntungan dari pinjaman yang dia berikan.Sebagai nasabahnya, anda bisa menanyakannya. Coba anda cek nama-nama berikut. Jangan-jangan anda tak tahu, kalau bank tempat anda menyimpan uang ternyata mendanai pemilik PT Lapindo Berantas.

•    Indonesia: Andalan Artha Advisindo Sekuritas, Bank Central Asia, Bank Danamon,Bank Mandiri, Bank Nasional Indonesia, Danatama Makmur, Indo Premier Securities, Investindo Nusantara Sekuritas.

•    Australia: ANZ, Caliburn Partnership, Commonwealth Bank of Australia, Maple-Brown Abbott

•    Inggris: Barclays, HSBC Bank, Standard Chartered Bank

•    Amerika Serikat : Citigroup, Goldman Sachs & Co, Merrill Lynch & Co., Morgan Stanley & Co.

•    Malaysia: Bank Niaga -  Group

•    Jerman: Deutsche Bank, Deutsche Investitions- Und Entwicklungsgesellschaft

•    Nederland : Fortis  Group, TMF Group, Vreewijk Management

•    Perancis: Natixis

•    Singapore : OCBC Bank, UBS, United Overseas Bank

•    Hongkong: PMA Investment Advisors

•    Switzerland : Credit Suisse

Sumber: FoE Europe, 2007 (JM)

26
May
08

Subsidi untuk Rakyat..No! Subsidi untuk Lapindo..Yes..Yes!

Tanggal 23 Mei 2008 dini hari pemerintah rejim neo-liberal Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla (JK) tanpa merasa berdosa mencabut subsidi bahan bakar minyak (BBM). Akibatnya, nelayan semakin terjepit karena tidak mampu beli BBM untuk melaut. Para pekerja yang tidak punya mobil pribadi harus menikmati naiknya ongkos transportasi publik. Semua subsidi untuk rakyat rencananya akan segera dicabut seperti subsidi tarif listrik. Anehnya, subsidi untuk rakyat dicabut namun subsidi untuk Lapindo justru dikucurkan..ironis…

__________________________________________________

Negara, yang seharusnya dapat bertindak tegas terhadap pihak-pihak yang merugikan masyarakat, pun kini hanya berfungsi tak lebih dari sekadar kasir Lapindo. Pasalnya, Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2007 Pasal 15 ayat 1 menyebutkan bahwa biaya masalah sosial kemasyarakatan di luar peta wilayah yang terkena dampak lumpur Lapindo dibebankan kepada pemerintah. Sementara itu, Lapindo hanya menanggung ganti rugi untuk warga yang ada di dalam peta.

Berdasarkan payung hukum itulah, dalam sidang kabinet terbatas yang diselenggarakan pada awal Maret 2008 lalu, pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla dengan mudah menyanggupi untuk mengucurkan uang sekitar Rp 700 miliar dari anggaran pendapatan dan belanja negara untuk menanggung dampak sosial dan lingkungan dari semburan lumpur Lapindo.

Uang dari APBN yang seharusnya bisa digunakan untuk membiayai anggaran pendidikan dan kesehatan pun dengan mudah dibobol untuk menanggulangi dampak sosial dan lingkungan dari semburan lumpur Lapindo. Padahal, jika saja tidak terjadi semburan lumpur dan Lapindo berhasil mengeruk sumber daya alam di Sidoarjo, keuntungan dari usaha itu sudah dapat dipastikan tidak mengalir ke kas negara atau andaikata mengalir pun jumlahnya tidak signifikan.

SUBSIDI UNTUK RAKYAT..NO!

SUBSIDI UNTUK LAPINDO..YES..YESS..!

22
May
08

Dua Tahun Lumpur Lapindo, Orang Gila di Sidoarjo Meningkat

Jumlah orang gila (stress) di Sidoarjo dikabarkan meningkat sejak terjadinya semburan lumpur Lapindo 29 mei 2006 yang lalu. Dapat dibayangkan betapa menderitanya kehidupan para korban itu. Tapi coba simak gaya hidup Menteri Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie. Dia adalah salah satu pembantu Presiden Yudhoyono yang paling sering gonta-ganti kendaraan sesuai seleranya.
Pada awal pemerintahan, saat para pembantu lain menggunakan sedan Volvo peninggalan menteri sebelumnya, Aburizal yang ketika itu menjabat sebagai Menko Perekonomian memakai sedan Nissan President. hmmm…bagaikan langit dengan bumi kan??
_____________________________________________________________________

Hampir Dua Tahun Lumpur Lapindo Menyembur Orang Gila di Sidoarjo Meningkat
Penyandang psikotis atau penyandang masalah kejiwaan di Kabupaten Sidoarjo dalam dua tahun terakhir menunjukkan peningkatan. Berdasarkan data di Dinas Kesejahteraan Sosial (Dinkessos) Sidoarjo, tren peningkatan ini mulai terjadi pada 2006 lalu, jumlah penderita psikotis tercatat 417 orang. Jumlah ini meningkat pada 2007 menjadi 448 orang. Sedangkan pada Januari 2008, jumlah penderita bertambah lagi 11 orang. Dari jumlah itu, sekitar 60 persen penderita termasuk usia produktif, yakni usia 20-40 tahun.

Apakah peningkatan jumlah penyandang masalah kejiwaan ada kaitannya dengan dampak lumpur panas Lapindo, yang pada 29 Mei 2008 mendatang akan genap dua tahun menyembur, Kasi Penyantunan dan Penyandang Cacat Dinkessos Sidoarjo, Drs Mulyadi secara eksplisit mengakuinya. “Ya, itu termasuk. Namun, itu hanya salah satu faktor penyebab makin tingginya jumlah penderita psikotis di Sidoarjo,” katanya kepada Surya di kantornya, Rabu (13/2). Diutarakan, parameter tekanan lingkungan yang membuat orang psikotis ada beberapa hal, di antaranya masalah keluarga, atau penderita tak mampu meraih ambisi dalam mewujudkan cita-citanya.

“Tekanan dari lingkungan memang cukup dominan menjadi penyebab munculnya psikotis,” tandasnya. Selain masalah tekanan lingkungan, pihaknya juga melihat peristiwa kecelakaan menjadi faktor penting penyebab psikotis. Ini bisa terjadi, jika dalam kecelakaan itu terjadi benturan pada kepala atau gegar otak, hingga mengganggu sistem saraf dalam otak. “Ini bisa mengganggu kondisi pikiran orang dan membuatnya jadi penderita psikotis,” tukasnya.

Namun Mulyadi mengaku tidak tahu berapa persentase penderita psikotis yang diakibatkan tekanan lingkungan, termasuk akibat dampak lumpur. Yang pasti, selama dua tahun terakhir, penderita psikotis sebagian besar atau sekitar 65 persen didominasi kaum pria.

sumber: - http://www.surya.co.id

21
May
08

Kebangkitan Bagi Bakrie, Kebangkrutan bagi Korban Lapindo



Hari ini (21/5) di Harian KOMPAS pada halaman 41, terdapat iklan satu halaman penuh dari Bakrie & Brother terkait dengan Hari kebangkitan Nasional. Iklan itu mengambil jargon “Bangkit dan Bersatu untuk Kesejahteraan Indonesia”. Namun sayang, tak begitu jauh dari Jakarta, tepatnya di Sidoarjo, Abdul Latif, salah satu korban luapan lumpur Lapindo (salah satu group Bakrie) mengalami stress berat. Jika malam telah datang, ia sering keliaran berkeliling ke eks tol Gempol-Porong, sembari mendatangi rumahnya yang sudah terendam lumpur. Lantas, apakah kebangkitan dan kesejahteraan itu hanya untuk Bakrie dan tidak untuk korban Lapindo?

________________________________________________

Korban Lumpur Lapindo Asal Besuki Stres

sumber: http://suryalive.com/content/view/702/51/

04/03/2008 | 22:44:27 SuryaLive | Sidoarjo – Warga korban lumpur panas Lapindo asal Desa Besuki, Kecamatan Jabon, Sidoarjo, perlu mendapatkan pendampingan dari sisi psikologi secara serius untuk menghindari guncangan jiwanya.

Tokoh masyarakat Besuki, Ali Mursyid mengatakan, masih banyak warga yang tidak mudah menerima dan menghadapi kejadian ini, karena itu butuh pendampingan, Kamis (4/3).

“Ada warga yang jiwanya terguncang. Bahkan sampai saat ini tergolek linglung di atas ranjang dan stres,” katanya. Ali mencontohkan penderitaan yang dialami Abdul Latif, warga Besuki RT04/RW05.

Setiap hari, si Abdul ini hanya tergolek di atas ranjang dalam gudang berukuran 4X5 meter, bekas kandang bebek milik familinya. Kalau malam, sering keliaran berkeliling ke eks tol Gempol-Porong, sembari mendatangi rumahnya yang sudah terendam lumpur.

“Aku mau pulang ke rumahku kok dilarang,” begitu jawabannya kalau dicegat warga ketika bertandang ke rumahnya yang sudah ditenggelamkan lumpur setinggi dua meter pasca jebolnya tanggul titik 41, Minggu (2/3).

Ratusan warga Besuki kini terpaksa mengungsi di eks tol Gempol-Porong. Mereka masih bertahan di pengungsian, karena belum mendapat bantuan pemerintah.

Desa Besuki, salah satu dari tiga desa yang akan mendapat ganti rugi dari APBN. Dua desa lainnya adalah desa Kedungcangkring dan Pejarakan, Kecamatan Jabon, Sidoarjo. ant

21
May
08

Lumpur Lapindo Mengandung Logam Berat!

Lumpur Lapindo ternyata telah terbukti mengandung logam berat yang membahayakan keberlanjutan kehidupan makhluk hidup. Apakah ancaman punahnya makhluk hidup ini juga menjadi perhatian PT. Lapindo? Rasanya, tidak…

__________________________

Analisa lumpur Lapindo yang diambil pada titik di sekitar 200 meter dari pusat semburan menunjukkan adanya logam berat berbahaya jauh di atas ambang batas yang dipersyaratkan dengan analisa total logam berat. Misalnya Cd 10,45 ppm, Cr 105,44 ppm, As 0,99 ppm, dan Hg 1,96 ppm.

Sedangkan hasil analisa mikrobiologi lumpur yang baru satunya-satunya dilakukan oleh Indonesian Center for Biodiversity and Biotechnology (ICBB) ini menunjukkan adanya Coliform, Salmonella dan Stapylococcus aureus di atas ambang batas yang dipersyaratkan.

Menurut Santosa, semua bakteri itu masuk dalam kelompok bakteri patogen. Sehingga menimbulkan konsekuensi ke depan bahwa dalam kondisi ekstrim apakah bakteri patogen bisa berubah sifat atau mengalami mutasi. Apakah mutasi negatif atau positif bagi bakteri itu. Mutasi negatif bagi bakteri bila kemampuannya untuk menginfeksi menjadi mati (menjadi tidak berbahaya bagi lingkungan), dan mutasi positif baginya bila semakin meningkat kemampuan infeksinya (menjadi berbahaya bagi lingkungan).

”Ini yang perlu kita perhatikan di masa depan. Walaupun saya juga yakin data lumpur itu tidak berasal pusat semburan di kedalaman, tapi karena lumpur sudah bercampur dengan sekitarnya,” jelasnya. ”Yang kami pertanyakan, mengapa bakteri itu bisa hidup di lumpur itu. Dan apa pengaruhnya terhadap lingkungan dan kesehatan ke depan,” lanjutnya.

Sedangkan pada analisa awal saat semburan lumpur pertama terjadi, bakteri itu tidak bisa hidup. Bakteri itu kemungkinan berasal dari lingkungan sekitar, karena hujan, atau tanggul yang bercampur dengan lumpur. ”Meski penelitian belum banyak dilakukan, namun kita perlu mewaspadai bahwa ada bakteri patogen di lumpur Lapindo, walau wajar bila bakteri itu ada di manapun,” ungkapnya lagi.

Pada analisa awal saat semburan lumpur baru terjadi, logam berat juga sangat jarang ditemukan. Data KLH juga menunjukkan bahwa logam berat tidak ada atau kecil jumlahnya, jauh di bawah ambang batas yang dipersyaratkan. Begitu pun pernyataan timnas, bahwa lumpur tidak mengandung logam berat. Dalam arti nilai logam berat melalui TCLP, semua merujuk bahwa kandungan logam berat di lumpur itu tidak signifikan atau tidak berdampak pada lingkungan atau diasumsikan tidak ada.

Santosa mengatakan bahwa hasil analisa KLH atau timnas pada bulan September itu sama dengan data hasil analisa Pusat Penelitian Tanah IPB pada awal terjadinya semburan lumpur. Dimana menyebutkan bahwa tidak ada potensi logam berat.

Namun saat Andreas Santosa mempresentasikan hasil analisa lumpur yang mengandung logam berat dan bakteri patogen di atas ambang batas itu di hadapan KLH dan timnas, keduanya tidak membantah data tersebut. Meski demikian pendapat adanya kandungan zat-zat berbahaya itu harus secara hati-hati disampaikan.

Sehingga pihak Andreas Santosa bersama tim penelitinya belum mampu mengatakan kalau lumpur Lapindo berpotensi menyebarkan logam berat. Demikian juga pihaknya menghimbau agar pemerintah dan timnas jangan terlalu dini mengatakan bahwa lumpur Lapindo tidak mengandung logam berat atau jauh di bawah ambang batas yang dipersyaratkan. ”Perlu hati-hati dalam pernyataan. Hal itu dikarenakan adanya tren dugaan kenaikan logam berat. Dalam arti komposisinya dalam lumpur Lapindo sekarang ini lebih tinggi dari sebelumnya,” tegas Dosen IPB itu.

Sementara itu data KLH saat itu menyatakan bahwa pH lumpur adalah3-4. Sedangkan data dari Tim Peneliti ICBB menunjukkan lumpur ber- pH 9,18. Sehingga jelas ada perberbedaan karakteristik lumpur sebelumnya dengan lumpur yang sekarang.

Adanya data hasil analisa lumpur Lapindo yang fluktuatif itu mungkin dipengaruhi dari mana semburan lumpur berasal. Lumpur keluar karena terdesak. Posisinya tidak jelas. Sehingga kemungkinan juga setelah sekian lama, lumpur yang keluar bukan logam berat lagi. Yang jelas menurut Santosa lagi, data yang sekarang mengandung logam berat yang signifikan. ”Sehingga kita perlu mengambil tindakan-tindakan khusus supaya logam ini tidak menimbulkan bahaya ke lingkungan,” simpulnya.

Menurut Andreas Santosa, lumpur Lapindo telah mengakibatkan hilangnya vegetasi, flora fauna, berpotensi mencemari air permukaan, sumber air dan air tanah karena logam berat, dan bila lumpur meluas akan terjadi perubahan iklim mikro. Bila logam-logam berat itu mencemari perairan umum tersebut maka akan terjadi peningkatan risiko terhadap kesehatan manusia, yaitu pada syaraf, hati, ginjal, kanker dan sebagainya. Yang perlu diperhatikan juga adalah rusaknya sanitasi dan kualitas udara yang akan mengakibatkan terjadinya beberapa penyakit seperti Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), demam berdarah dan diare.

Sumber: beritabumi.or.id

15
May
08

Masyarakat Sipil Tetap Akan Lawan Lapindo

Dua tahun sudah semburan lumpur Lapindo menenggelamkan kawasan Sidoarjo. Merampas hak-hak warga di kawasan itu. Di sisi lain, Lapindo dengan kekuatan modal dan ‘politik’ nya terus menerus berupaya melakukan disinformasi sehingga persoalan semburan lumpur yang sejatinya terang benderang menjadi kabur. Untuk itulah hari ini (15/5) sekelompok organisasi masyarakat sipil telah bersepakat untuk tatap melawan sepak terjang Lapindo.

Bertempat di kantor SatuDunia (OneWorld, Indonesia) beberapa organisasi masyarakat sipil seperti Walhi, Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), Urban Poor Consortium (UPC), Yayasan Air Putih dan Berita Bumi-Konphalindo berkumpul guna memperkuat gerakan perlawanan masyarakat sipil terhadap sepak terjang Lapindo di Sidoarjo.

Di tengah mulai ditinggalkannya korban lumpur Lapindo oleh negara, wakil rakyatnya –baik yang ada di daerah maupun di pusat– dan media massa sebagai kekuatan keempat demokrasi, kabar di atas tentu sedikit menggembirakan para korban. Paling tidak, secara psikologis para korban Lapindo tidak merasa ditinggalkan oleh komponen masyarakat sipil lainnya dalam melawan korporasi besar yang bernama PT. Lapindo Berantas.