Biaya yang dikeluarkan untuk acara resepsi keponakan Menko Kesra Aburizal Bakrie ini memang tergolong besar. Konon besarannya biayanya hingga Rp 10 miliar. Bila merujuk dana yang dekeluarkan untuk dekorasinya yang seharga Rp 3 miliar, kiranya menjadi wajar. Belum lagi untuk keperluan-keperluan lain-lain yang tentunya tidak dibayar murah.
Misalnya parkiraan untuk keluarga mempelai. Untuk memberi kenyamanan, keluarga Bakrie membooking beberapa luas area parkir yang ada di Hotel Mulia. Harga sewa ruang parkir itu Rp 6 juta per hari. Sementara keluarga Bakrie telah membookingnya untuk 3 hari, sejak Rabu 23 Juli 2008 hingga Jumat 25 Juli 2008. Belum lagi sewa parkiran untuk sejumlah tamu istimewa yang hadir di resepsi.
(sumber: http://www.detiknews.com/read/2008/07/28/163601/979245/159/rp-3-miliar-untuk-dekorasi-saja)
Bandingkan dengan ini………..
Ratusan warga korban lumpur yang tergabung dalam Paguyuban Warga Renokenongo Menolak Kontrak (Pagar Rekontrak), Jumat melakukan aksi mengemis di sepanjang jalan Raya Porong, Sidoarjo, tepatnya di depan pintu masuk lokasi pengungsian Pasar Baru Porong (PBP).
atau yang ini………
“Apa yang dikendaki dalam pemulihan, maka kami sudah tidak layak lagi menyikapi. Karena kami hanya dikasih makan nasi bungkus, satu nasi bungkus dengan lauk seadanya dengan air mineral satu. Kemudian kami tidur di alas. Kami tidak diberi apa-apa.
Hari berhari, minggu berminggu, akhirnya bulan-berbulan. Maka keadaan situasi pengungsian berubah total. Korban Lapindo sudah banyak yang stres, sudah banyak yang depresi, sudah banyak yang gila. Bahkan pada tengah malam ada seorang laki-laki, keluar dengan membawa kalkulator. Ketika saya tanya, untuk apa kalkulator? Dia tidak mau menjawab. Namanya siapa? Tidak mau menjawab. Rumahnya dimana? Alamatnya dimana? Dia sudah tidak mau menjawab. Dan setelah menghitung dengan kalkulatornya, kemudian hening sejenak…. Tapi kemudian dia tertawa terbahak-bahak dengan senndirinya.
Juga saya jumpai seorang ibu duduk melamun, bengong, memandang kesatu arah. Lama sekali. Kemudian si ibu itu tertawa sendiri. Oleh karena itu, kalau pemerintah menyatakan bahwa korban lumpur Lapindo tidak berdampak psikologis, itu adalah pembohongan. Tapi, bahwa dokter Rumah Sakit Dr. Soetomo menyatakan bahwa korban Lumpur Lapindo sudah 90 persen mengalami depresi, itu betul.
atau yang ini lagi……
Purnomo yang juga warga Perum TAS I blok AA7/26 itu menambahkan, penderitaan warga saat ini sangat banyak. Selain kehilangan rumah, mereka juga kehilangan pekerjaan atau mata pencaharian. Akibatnya, pengangguran pun tak terelakkan. “Tukang-tukang ojek, sekarang sudah tidak bekerja lagi. Saya sendiri juga sudah tidak bekerja,” ujarnya.
Bencana lumpur tersebut, menurutnya, juga telah mengakibatkan tingginya tingkat perceraian. “Seorang istri meninggalkan suaminya, bukan hal asing lagi. Alasannya jelas, suaminya sudah tidak punya pekerjaan dan penghasilan lagi. Belum lagi ada yang jadi gila, di RT kami sudah ada 50 orang yang jadi gila karena lumpur itu,” terangnya.
sumber:
1.http://hotmudflow.wordpress.com/2008/05/02/warga-korban-lumpur-mengemis-massal-pasca-dihentikan-jatah-makanan/
2.http://www.berpolitik.com/static/internal/2007/04/news_4017.html
3. http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=8992







