Archive for June, 2008

24
Jun
08

Lumpur Lapindo Picu Kebakaran, Tapi Lapindo dan BPLS Tetap Diam!

Lumpur lapindo telah memicu terjadinya kebakaran di Desa Jatirejo, Sidoarjo. Adalah Lilik, seorang janda 2 (dua) anak, yang sedang memasak mie instan di warung miliknya menjadi korban kebakaran.

Sejatinya, bahaya air bercampur semburan gas liar di Desa Jatirejo sudah diketahui sejak pertengahan 2007. Namun pemerintah dan juga Lapindo tatap tinggal diam. Bahkan pihak Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) bahwa daerah itu masih layak huni. Pemerintah benar-benar meninggalkan warganya yang telah menjadi korban semburan lumpur Lapindo.

Bukankah pada tahun 2004, warga Sidoarjo yang telah memilih Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla (JK) dan juga para wakilnya secara langsung? Lantas mengapa sekarang mereka semua meninggalkan warga Sidoarjo yang menjadi korban Lapindo? Begitu kharismatik dan mempesonakan ‘kah seorang Aburizal Bakrie sehingga mampu memalingkan SBY-JK dan para wakil rakyat dari rakyat di Sidoarjo?

Sumber : http://youtube.com/watch?v=obgPF_dR15o

Advertisements
19
Jun
08

Ada Apa Dengan Ulama di Jawa Timur?

Indonesia sering dikenal dengan sebutan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Tak heran bila, banyak ulama (pemuka agama Islam) yang lahir dan berkarya di negeri ini. Jawa Timur, sebagai bagian dari Indonesia dikenal sebagai salah satu ‘gudangnya’ ulama di negeri ini.

Puluhan, ratusan bahkan mungkin ribuan pesantren dan sekolah Islam telah didirikan di Jawa Timur. Ribuan bahkan mugkin jutaan buku agama pun  telah diterbitkan di daerah ini. Namun, aneh bin ajaib para ulama di negeri ini mendadak menjadi diam seribu bahasa ketika melihat di depan matanya, ribuan orang telah kehilangan nafkahnya, dirampas hak-haknya dan diusir dari tempat tinggalnya akibat semburan lumpur panas Lapindo. Ada apa dengan Ulama Jawa Timur?

———————————-

“Apakah ulama di Jawa Timur udah bejat (tidak bermoral, red) semua sehingga mereka diam saja melihat sebuah penindasan yang dilakukan secara nyaris telanjang dalam kasus Lapindo ini? ” kata salah seorang teman warga Sidoarjo yang mendampingi korban Lapindo sejak 2 (dua) tahun yang lalu, di sebuah diskusi tentang semburan lumpur Lapindo di Surabaya (13/6).

Gugatan terhadap eksistensi ulama di Jawa Timur bahkan di Indonesia pantas bahkan wajib dilakukan terkait dengan kasus semburan lumpur Lapindo ini. Bayangkan, ribuan orang telah menjadi korban bahkan sebagian dari korban telah ada yang menjadi gila karena stress dan ada kabar juga bahwa diantara mereka ada yang menjadi pelacur untuk menyambung hidup akibat pemiskinan yang ditimbulkan oleh bencana ekologi lumpur Lapindo.

Beberapa penelitian ilmiah dari para peneliti independent dari dalam dan luar negeri telah menyatakan secara lugas bahwa semburan lumpur panas yang terjadi di Sidoarjo akibat kesalahan pengeboran dari PT. Lapindo Brantas. “Ini kejahatan, korbannya sudah jelas namun pelakunya masih berleha-leha,” kata teman tadi.

Sementara itu, Lapindo bahkan Aburizal Bakrie masih saja menjadikan Tuhan sebagai kambing hitam dalam kasus semburan lumpur dengan menyatakan hal itu sebagai bencana alam. Bayangkan, ketika Tuhan dihinakan  dalam semburan lumpur pun para ulama di Jawa Timur merasa tak terusik. Hal itu berbeda sekali ketika menyikapi munculnya orang-orang yang mengaku nabi baru setelah Nabi Muhammad SAW. “Kelompok yang menyatakan ada Nabi baru setelah Nabi Muhammad SAW telah melakukan penodaan terhadap Islam,” kata seorang tokoh ulama dalam sebuah acara debat di salah satu stasiun televisi swasta. Pertanyaannya kemudian tentu saja, jika para ulama itu merasa tersinggung dan ternodai dengan pengakuan adanya Nabi baru setelah nabi Muhammad, lho kok mereka tidak tersinggung ketika Tuhan, termasuk Tuhannya orang Islam, Tuhannya Nabi Muhammad juga, dijadikan kambing hitam dalam semburan lumpur di Sidoarjo oleh Lapindo?

Di sisi lain, dalam agama Islam secara lugas memvonis orang-orang yang tekun mengerjakan ibadah ritual sebagai seorang PENDUSTA AGAMA jika mereka tidak peduli terhadap nasib orang – orang miskin (dimiskinkan) dan tertindas.

Ada apa dengan ulama di Jawa Timur?

11
Jun
08

Lumpur Lapindo Akibat Pengeboran

Koran TEMPO/Rabu, 11 Juni 2008

Nasional

RICHARD DAVIES: Lumpur Lapindo Akibat Pengeboran

PARIS — Sejumlah ilmuwan kembali membantah klaim bahwa semburan lumpur panas Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur, dua tahun lalu, akibat gempa bumi di Yogyakarta dan bukan karena pengeboran. Dalam urusan ini mereka percaya bahwa lumpur Lapindo bukan bencana alam. “Tapi dipicu oleh kesalahan pengeboran sumur Banjar-Panji-1,” kata Profesor Richard Davies dari Universitas Durham, Inggris, seperti dilansir kantor berita AFP, Senin lalu.

Semburan lumpur Lapindo terjadi sejak 29 Mei 2006. Hingga sekarang semburan tersebut belum bisa ditangani. Sementara itu, gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah terjadi dua hari sebelumnya, yakni pada 27 Mei. Ilmuwan yang meyakini semburan lumpur berhubungan dengan gempa mendasarkan keyakinannya pada teori bahwa gempa tersebut mempengaruhi produktivitas fluida di sumur-sumur di sekitar Banjar Panji-1. Pendapat inilah yang ditolak Davies.

Dalam penelitian terbarunya, seperti dimuat dalam jurnal Earth Planetary Science and Letters, Davies dan kawan-kawan menggeber hasil temuannya itu. Selain mengikutkan dia, penelitian melibatkan sejumlah ahli, termasuk dari Indonesia, Australia, dan Amerika Serikat.

Untuk kepentingan penelitian, para ahli tersebut memetakan dan menganalisis catatan detail ihwal kecelakaan pengeboran sumur Banjar Panji-1. Salah satu kesimpulannya, para peneliti menyatakan 99 persen gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta bukan pemicu terjadinya semburan lumpur Lapindo.

“Siapa pun bisa membuat interpretasi atau pendapat atas terjadinya semburan lumpur tersebut,” kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat PT Lapindo Yuniwati Teryana saat dimintai tanggapan semalam. Namun, ia menjelaskan, Lapindo telah melakukan kajian dengan para ahli. Kesimpulannya menyebutkan, pengeboran yang dilakukan sudah sesuai dengan standar pengeboran yang berlaku secara nasional maupun internasional. “Bukan kami mau membela diri,” kata dia, “Tapi itu hasil kajian kami.”

Adapun Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Berry Nahdian Furqan menyatakan pendapat Davies yang menyebut semburan lumpur Lapindo akibat pengeboran sumur Banjar Panji-1 sudah sering diutarakan. “Tapi pemerintah atau pengadilan tidak pernah mempertimbangkannya dan menjadikannya acuan dalam membuat kebijakan,” katanya.

Untuk itu, pihaknya akan mempelajari kesimpulan yang disampaikan Davies dan kawan-kawan, seperti ditulis dalam jurnal Earth Planetary Science tersebut. “Mungkin saja bisa dijadikan bukti atau temuan baru,” kata Berry kemarin. DWI WIYANA I RINI KUSTIANI

koran

11
Jun
08

Drilling caused Indonesian mud volcano

Mon Jun 9, 2008 9:34pm EDT

WASHINGTON (Reuters) – Drilling of a gas exploration well, and not an earthquake, set off a volcano that has been spewing boiling mud for two years and has displaced more than 50,000 people on the Indonesian island of Java, experts said on Monday.

Records kept by oil and gas company Lapindo Brantas during the drilling of a gas exploration well called Banjar-Panji-1 show specific incidents that could have triggered the disaster, the international team of experts said.

“We are more certain than ever that the Lusi mud volcano is an unnatural disaster and was triggered by drilling the Banjar-Panji-1 well,” said Richard Davies, a professor of earth sciences at Britain’s Durham University.

“We show that the day before the mud volcano started, there was a huge ‘kick’ in the well, which is an influx of fluid and gas into the wellbore,” Davies said in a statement.

“We show that after the kick, the pressure in the well went beyond a critical level. This resulted in the leakage of the fluid from the well and the rock formations to the surface — a so-called underground blowout. This fluid picked up mud during its ascent, and Lusi was born.”

The team of British, American, Indonesian and Australian scientists, writing in the journal Earth and Planetary Science Letters, said this pressurized fluid fractured the surrounding rock. Mud spurted out of cracks instead of the wellhead.

“There is not a hope on Earth they are going to stop it now,” said the University of California Berkeley’s Michael Manga, who worked on the study.

“You can plug up a hole, but if you try to plug a crack, stuff just flows around the plug, or the crack gets bigger. The well now has no effect on the erupting mud, it was just the trigger that initiated it.”

MILLIONS IN DAMAGE

Sumber: http://www.reuters.com/article/scienceNews/idUSN0930063820080610

09
Jun
08

Lapindo Berdusta Lagi!

Belum lama berselang peringatan dua tahun semburan lumpur panas di Sidoarjo, Lapindo kembali melakukan upaya penyesatan informasi melalui serangkaian iklannya di media massa. Korporasi itu kembali beriklan di Majalah TEMPO edisi 2-8 Juni 2008 dengan judul ”Dua Tahun Komitmen Sosial Lapindo di Sidoarjo”

Seperti iklan-iklan Lapindo sebelumnya, pesan utama dalam iklan itu adalah meskipun lumpur panas yang terjadi di Sidoarjo merupakan bencana alam, namun Lapindo tetap memiliki komitmen sosial. Sah-sah saja bila sebuah korporasi yang sedang mengalami krisis menggunakan iklan sebagai bagian dari strategi public relation (PR) untuk menggalang opini publik guna mendongkrak kembali citra korporasi.

Persoalannya kemudian adalah jika serangkaian argumentasi yang dikutip dalam iklan untuk mendongkrak citra korporasi itu justru menyesatkan publik dalam memahami kasus ini. Dalam iklannya di Majalah TEMPO edisi 2-8 Juni 2008, Lapindo mengutip pernyataan Ketua Panitia Seminar Forum Masyarakat Jawa Timur yang mengatakan bahwa pendapat yang menyatakan bahwa semburan lumpur sebagai underground blow out didasarkan pada data yang tidak faktual dan analisis yang salah. Intinya Lapindo tatap bersikeras bahwa semburan lumpur adalah bencana alam bukan kelalaian dalam operasional pertambangan.

Underground blow out sendiri adalah munculnya aliran minyak, gas dan lumpur yang tidak bisa dikendalikan di dalam pipa pengeboran atau lubang sumur sehingga menimbulkan nyala api di bawah permukaan atau di dalam sumur.

Jika pembaca tidak jeli, maka pembaca akan dengan mudah tergiring untuk mengikuti opini publik yang mamang sudah sejak awal sengaja digalang oleh Lapindo. Untuk menguji kebenaran pernyataan dalam iklan tersebut ada baiknya kita membandingkannya dengan temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dalam auditnya terkait dengan kasus ini.

BPK menemukan dokumen Berita Acara Penanggulangan Kejadian Semburan Lumpur di keitar lokasi sumur Banjar Panji -1 (BJP-1) tanggal 8 Juni 2006 yang telah ditandatangani oleh Lapindo dan BP Migas. Dokumen itu menyebutkan bahwa BP. Migas maupun Lapindo telah sepakat bahwa semburan tersebut akibat underground blow out.

Selain itu BPK juga menemukan fakta berupa surat dari Dinas Survei dan Pemboran BP Migas yang dilampiri penjelasan tertulis dari Edi Sutrisno, Senior Drilling Manager PT. Energy Mega Persada, Tbk. Fakta itu menjelaskan bahwa proses pencabutan pipa dan mata bor dari kedalaman 7.415 kaki pada tanggal 28 Mei 2006 pagi telah menyebabkan well kick (Tekanan zat alir dari formasi terhadap sumur) yang terlambat diantisipasi. Kick, erupsi atau dorongan aliran lumpur pemboran akibat masuknya tekanan zat alir dari formasi ke lubang sumur, baru diidentifikasi pada kedalaman 4.241 kaki.

Penyesatan informasi lainnya yang muncul dalam iklan itu adalah kutipan yang mengatakan bahwa secara yuridis, Lapindo telah dinyatakan tidak bersalah karena sumburan lumpur panas adalah bencana alam dan bukan kelalaian korporasi. Jika kita cermati secara sekilas tidak ada yang menyesatkan dalam kutipan ini. Namun bila kita lihat putusan pengadilan terkait dengan gugatan YLBHI terhadap Lapindo maka kita akan segera menemukan adanya penyesatan informasi tersebut.

Menurut putusan Majelis Hakim Bernomor 384/PDT.G/2006/PN.JKT.PST tanggal 27 November 2007 menyebutkan bahwa semburan lumpur panas Sidoarjo disebabkan oleh kekurang hati-hatian pengeboran yang dilakukan oleh Lapindo, karena belum terpasang casing atau pelindung secara keseluruhan.

Jika kita ingin sejenak menoleh kebelakang, maka kita juga akan melihat bahwa kasus semburan lumpur ini sejak awal memang sudah penuh dengan upaya penyesatan informasi. Penyesatan informasi itu adalah, pernyataan Lapindo kepada warga sekitar bahwa perusahaannya bukanlah perusahaan pertambangan melainkan hanya sebuah perusahaan pakan ternak. Akibatnya, warga sekitar pun tidak berkeberatan terhadap kehadiran Lapindo yang di kemudian hari ternyata justru membawa mimpi buruk bagi kehidupan mereka.

Tidak berhenti sampai di situ, saat penyusunan dokumen Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), para konsultan Lapindo juga melakukan upaya penyesatan informasi kepada pejabat publik bahwa operasi pertambangan layak berada di kawasan yang kini telah menjadi lautan lumpur itu. Padahal Peraturan Daerah (Perda) mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Sidoarjo tahun 2003-2013 dengan jelas menyatakan bahwa kawasan Porong, khususnya wilayah Siring, Reno Kenongo dan Tanggulangin adalah wilayah pemukiman dan budidaya pertanian bukan eksplorasi pertambangan (Walhi, 2008).

Serangkaian upaya penyesatan informasi terkait dengan kasus ini sejak awal hingga kini membuat persoalan semburan lumpur Lapindo sangat sukar untuk diurai untuk kemudian diselesaikan secara lebih adil. Penyesatan informasi ini juga menjadi sebuah preseden buruk bagi pengelolan lingkungan hidup terutama pada sektor pertambangan. Bukan tidak mungkin kelak perusahaan pertambangan yang mempunyai persoalan lingkungan juga akan melakukan serangkaian penyesatan informasi untuk tetap mempertahankan citra korporasi agar tidak jeblok.

Upaya penyesatan informasi dalam kasus lumpur Lapindo ini juga tamparan yang cukup keras bagi citra profesi PR perusahaan. Bukan tidak mungkin kelak, profesi PR di perusahaan yang sedang mengalami krisis kepercayaan publik akan selalu diidentikan dengan profesi yang selalu memproduksi serangkaian penyesatan informasi guna mendongkrak kembali popularitas perusahaan.

Untuk itulah, tidak bisa tidak serangkaian upaya penyesatan informasi dalam kasus semburan lumpur Lapindo ini harus segera diakhiri. Diharapkan dengan diakhirinya upaya penyesatan informasi ini akan lebih memudahkan para pengambil kebijakan untuk menyelesaikan persoalan tersebut dengan tuntas. Selain itu juga agar masyarakat dapat melihat persoalan lumpur Lapindo ini secara lebih jernih.