Archive for July, 2008

31
Jul
08

Bingkisan Dari Pernikahan Adinda Bakrie……

Biaya yang dikeluarkan untuk acara resepsi keponakan Menko Kesra Aburizal Bakrie ini memang tergolong besar. Konon besarannya biayanya hingga Rp 10 miliar. Bila merujuk dana yang dekeluarkan untuk dekorasinya yang seharga Rp 3 miliar, kiranya menjadi wajar. Belum lagi untuk keperluan-keperluan lain-lain yang tentunya tidak dibayar murah.

Misalnya parkiraan untuk keluarga mempelai. Untuk memberi kenyamanan, keluarga Bakrie membooking beberapa luas area parkir yang ada di Hotel Mulia. Harga sewa ruang parkir itu Rp 6 juta per hari. Sementara keluarga Bakrie telah membookingnya untuk 3 hari, sejak Rabu 23 Juli 2008 hingga Jumat 25 Juli 2008. Belum lagi sewa parkiran untuk sejumlah tamu istimewa yang hadir di resepsi.

(sumber: http://www.detiknews.com/read/2008/07/28/163601/979245/159/rp-3-miliar-untuk-dekorasi-saja)

Bandingkan dengan ini………..

Ratusan warga korban lumpur yang tergabung dalam Paguyuban Warga Renokenongo Menolak Kontrak (Pagar Rekontrak), Jumat melakukan aksi mengemis di sepanjang jalan Raya Porong, Sidoarjo, tepatnya di depan pintu masuk lokasi pengungsian Pasar Baru Porong (PBP).

atau yang ini………

“Apa yang dikendaki dalam pemulihan, maka kami sudah tidak layak lagi menyikapi. Karena kami hanya dikasih makan nasi bungkus, satu nasi bungkus dengan lauk seadanya dengan air mineral satu. Kemudian kami tidur di alas. Kami tidak diberi apa-apa.

Hari berhari, minggu berminggu, akhirnya bulan-berbulan. Maka keadaan situasi pengungsian berubah total. Korban Lapindo sudah banyak yang stres, sudah banyak yang depresi, sudah banyak yang gila. Bahkan pada tengah malam ada seorang laki-laki, keluar dengan membawa kalkulator. Ketika saya tanya, untuk apa kalkulator? Dia tidak mau menjawab. Namanya siapa? Tidak mau menjawab. Rumahnya dimana? Alamatnya dimana? Dia sudah tidak mau menjawab. Dan setelah menghitung dengan kalkulatornya, kemudian hening sejenak…. Tapi kemudian dia tertawa terbahak-bahak dengan senndirinya.

Juga saya jumpai seorang ibu duduk melamun, bengong, memandang kesatu arah. Lama sekali. Kemudian si ibu itu tertawa sendiri. Oleh karena itu, kalau pemerintah menyatakan bahwa korban lumpur Lapindo tidak berdampak psikologis, itu adalah pembohongan. Tapi, bahwa dokter Rumah Sakit Dr. Soetomo menyatakan bahwa korban Lumpur Lapindo sudah 90 persen mengalami depresi, itu betul.

atau yang ini lagi……

Purnomo yang juga warga Perum TAS I blok AA7/26 itu menambahkan, penderitaan warga saat ini sangat banyak. Selain kehilangan rumah, mereka juga kehilangan pekerjaan atau mata pencaharian. Akibatnya, pengangguran pun tak terelakkan. “Tukang-tukang ojek, sekarang sudah tidak bekerja lagi. Saya sendiri juga sudah tidak bekerja,” ujarnya.

Bencana lumpur tersebut, menurutnya, juga telah mengakibatkan tingginya tingkat perceraian. “Seorang istri meninggalkan suaminya, bukan hal asing lagi. Alasannya jelas, suaminya sudah tidak punya pekerjaan dan penghasilan lagi. Belum lagi ada yang jadi gila, di RT kami sudah ada 50 orang yang jadi gila karena lumpur itu,” terangnya.

sumber:

1.http://hotmudflow.wordpress.com/2008/05/02/warga-korban-lumpur-mengemis-massal-pasca-dihentikan-jatah-makanan/

2.http://www.berpolitik.com/static/internal/2007/04/news_4017.html

3. http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=8992

Advertisements
25
Jul
08

Surat “Cinta” untuk Adinda Bakrie…………..

Hari ini (25/7) rencananya, sang putri Adinda Bakrie segera melangsungkan pernikahan mewahnya di salah satu hotel berbintang di Jakarta. Di saat bersamaan sepucuk Surat “Cinta” terkirim untuknya. Berikut bunyi surat “Cinta” tersebut.

*****************************************


Teruntuk Adinda Bakrie yang hari ini (25/7) hendak menempuh hidup baru…

Adinda Bakrie, sebentar lagi engkau akan memasuki lembar kehidupan baru bersama keluarga baru…

Kehidupan baru itu kadang lebih keras dibandingkan ketika engaku masih lajang…

Untuk itu, di saat engkau menikmati pesta mewah perkawinanmu, belajarlah pada para perempuan-perempuan yang sekarang menjadi pengungsi korban semburan lumpur Lapindo.

Sudah dua tahun ini mereka dihinakan, dihilangkan nafkahnya dan dirampas hak-haknya oleh sebuah korporasi besar yang kemudian berlindung di ketiak negara seraya menjadikan Tuhan sebagai kambing hitam dari seluruh cerita semburan lumpur laknat Lapindo.

Adida Bakrie,

Sejanak alihkan pandangan matamu dari segala kemewahan pesta pernikahanmu. Sekarang, sebentar saja, sekali lagi sebentar saja arahkan pandangan matamu kepada anak-anak porong yang menjadi korban semburan lumpur laknat Lapindo.

Lihatlah anak-anak korban semburan lumpur lapindo. Diantara mereka kini telah menjadi calon generasi cacat karena hidup di lingkungan yang membahayakan kesehatannya. Diantara mereka juga ada yang terpaksa harus putus sekolah karena ayahnya kehilangan pekerjaan setalah sumber-sumber kehidupannya ditenggelamkan oleh semburan lumpur laknat Lapindo.

Lihat pula sekolah-sekolah dari anak-anak Porong yang sudah ditenggelamkan oleh semburan lumpur laknat Lapindo. Sebuah sekolah yang sangat sederhana dibandingkan tempat tinggalmu dan lokasi pernikahanmu. Namun, tahukah engkau sekolah sederhana itu adalah salah satu harapan bagi anak-anak Porong untuk merubah hidupnya. Agar kelak mereka tidak lagi ditipu oleh sebuah korporasi besar lagi.

Adinda Bakrie,

Sejenak, lihatlah pula para korban lumpur laknat Lapindo yang sekarang menjadi penghuni Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di Jawa Timur. Kehilangan tanah, rumah dan kehidupannya akibat lumpur Lapindo telah menjadikan mereka kehilangan akal sehat.

Adinda Bakrie,

Sejenak, cukup hanya lima menit saja, rasaknlah pedihnya hati para korban Lapindo itu. Rasakan kegundahan mereka yang talah dua tahun lamanya tidak memiliki kepastian hidup. Yang telah dua tahun lamanya dihinakan, dihilangkan nafkahnya dan dirampas hak-haknya. Sekali lagi, sejenak rasakan kegetiran dan hancurnya hati mereka…

Sumber Photo:

1. Photo Sdinda Bakrie: http://jakartasocial.wordpress.com/2008/04/24/current-obsession-adinda-bakrie/

2. Photo korban Lapindo by http://www.korbanlumpur.info/index.php

24
Jul
08

Menikah di atas genangan air mata…..

Bagi umat manusia, menikah adalah salah satu cara untuk mengungkapkan cinta dan kasih sayang kepada pasangannya. Cinta dan kasih sayang adalah hal yang manusiawi. Namun menjadi sebuah ironi bila ketika kita mengekspresikan rasa cinta dan kasih sayang kepada pasangan kita, nun jauh di sana ada ribuan orang yang bergelimang air mata karena ulah para leluhur kita yang mencari kekayaan untuk kehidupan kita bahkan juga mungkin untuk biaya pernikahan kita itu…. Alangkah tragisnya pernikahan seperti itu..

**********************************************************

Photo Source: http://jakartasocial.wordpress.com/2008/05/20/the-splendid-wedding-plan/

Pernikahan tragis seperti itu pula yang nampaknya dialamai oleh Adinda Bakrie, yang katanya akan melangsungkan pernikahan pada tanggal 25 Juli 2008

(http://www.detiknews.com/read/2008/07/23/144527/976581/10/pernikahan-adinda-bakrie-diprotes-keluarga-emoh-komentar)

Saat sang pengantin melangsungkan pesta pernikahan yang kabarnya menelan biaya Rp 2 digit miliar itu, ribuan warga Porong Sidoarjo yang menjadi korban semburan lumpur laknat Lapindo berurai air mata karena kehilangan nafkahnya bahkan juga rumah beserta isinya. Bahkan diantara mereka ada yang harus merelakan saudaranya bahkan dirinya sendiri untuk dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) karena tekanan psikologis yang begitu berat akibat malapetaka lumpur Lapindo.

Bukan hanya itu rartusan bahkan ribuan anak-anak di kawasan Porong juga dikabarkan tengah terancam menjadi generasi pesakitan akibat racun yang ada di dalam lumpur atau di udara dari semburan lumpur Lapindo. Sebuah generasi cacat…

Akankah sang pengantin pasangan Adinda Bakrie juga merasakan kesedihan, kepiluan , tangisan dan jeritan para korban Lapindo di Porong? Atau apakah kecintaannya terhadap pasangannya telah membutakan mata dan hatinya terhadap penderitaan warga Porong akibat semburan lumpur Lapindo? Akankah kemewahan pesta senilai Rp. 2 digit miliar itu lebih berharga daripada ribuan bahkan jutaan warga Porong yang telah dihinakan, dihilangkan nafkahnya dan dirampas hak-haknya akibat semburan lumpur laknat Lapindo? Serangkaian pertanyaan tersebut sejatinya menjadi ujian bagi keberadaan akal sehat dan nurani kita sebagai manusia….

Akhirnya untuk Adinda Bakrie………..

Selamat menempuh hidup baru!

Semoga suatu saat nanti, entah di dunia atau di akherat kelak engkau dapat merasakan pula perihnya kehidupan yang saat ini sedang dialamai oleh para korban lumpur laknat Lapindo di Porong Sidoarjo, Jawa Timur…

Amien!

23
Jul
08

Petunjuk Awal Indikasi Perselingkuhan Politik Lapindo

Berikut ini beberapa petunjuk awal yang mengindiksikan adanya perselingkuhan pemilik modal dan para penyelenggara negara dalam kasus semburan lumpur Lapindo yang dikumpulkan dari berbagai sumber bahan bacaan. Semoga para jurnalis yang masih memiliki hati nurani segera menindaklanjutinya dengan sebuah liputan investigasi.

1. Pelanggaran Tata Ruang Wilayah Sidoarjo

Begini ceritanya:

Peraturan Daerah (Perda) mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Sidoarjo tahun 2003-2013 misalnya, menyatakan bahwa kawasan Porong, khususnya wilayah Siring, Renokenongo dan Tanggulangin adalah wilayah pemukiman dan budidaya pertanian. Namun, konsultan Amdal (Analisa mengenai dampak lingkungan) dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, sebuah perguruan tinggi milik negara, bersikeras bahwa Lapindo diperbolehkan beroperasi di wilayah tersebut (Lapindo, Tragedi kemanusiaan dan Ekologi, Walhi, 2008).

Anehnya, para Insinyur yang selama studinya disubsidi oleh uang rakyat itu tiba-tiba menjadi buta terhadap persoalan tata ruang wilayah. Celakanya, para pejabat publik pun dibuat kehilangan akal sehatnya di hadapan para Insinyur alumni Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ternama yang telah dibayar Lapindo menjadi konsultannya.

Pertanyaan mendasarnya adalah kenapa sebuah Perda yang dibuat oleh Pemerintah Daerah dan anggota DPRD Sidoarjo yang dipilih oleh rakyat tiba-tiba bisa diterobos oleh Lapindo?

2. Adanya Invisible Hand dari Kepres 12/2006 ke Perpres 14/2007

Begini ceritanya:

Pada tahap awal, pemerintah mengeluarkan Kepres No. 13 Tahun 2006 tentang Tim Nasional Penanggulangan Lumpur di Sidoarjo (yang kemudian disingkat Timnas). Kepres No 13/2006 diktum kelima menyebutkan “Dengan terbentuknya Tim Nasional dengan tugas sebagaimana dimaksud pada Diktum Ketiga tidak mengurangi tanggung jawab PT. Lapindo Brantas untuk melakukan penanggulangan dan pemulihan kerusakan lingkungan hidup dan masalah sosial yang ditimbulkannya”

Regulasi itu kemudian diganti oleh Perpres 14/2007 yang justru terasa adanya invisible hand (tangan-tangan tak tampak) yang berupaya meringankan bahkan menghilangkan tanggung jawab PT. Lapindo atas semburan lumpur itu (Sumber: Lapindogate, Skandal Industri Migas, 2007)

Pertama, dalam Perpres 14/2007 terdapat pembagian wilayah kelola yang menjadi tanggung jawab negara dan Lapindo (pembuatan peta terdampak dan di luar peta terdampak). Padahal sebelumnya semua menjadi tanggung jawab Lapindo akibat kelalaiannya melakukan pengeboran.

Kedua, skema penanganan dampak sosial dan lingkungan direduksi menjadi skema jual beli. Pertanyaanya tentu saja adalah apakah dampak sosial dan ekologi bisa diselesaikan dengan skema jual beli asset?

Dari kedua peraturan tersebut, tercium aroma tak sedap dari sebuah perselingkuhan antara korporasi dan penyelenggara negara.

3. Tawaran Cash and Resettlement

Bagini ceritanya;

Belum jelas upaya pembayaran dengan skema 20% dan 80%, Lapindo kembali menawarkan skema resettlement (penempatan kembali) korban Lapindo ke perumahan yang dibangun oleh group Bakrie.

Tentu saja skema yang ditawarkan oleh Lapindo ini menguntungkan korporasi tersebut. Ibarat mengeluarkan uang dari kantong kiri untuk kemudian dimasukan ke kantong kanan. Anehnya, akal-akalan semacam ini juga dibiarkan saja oleh para ‘pangeran’ di negeri ini.

*****************************************************************

Lihat berita di Sinar Harapan Sinar Harapan/Kamis, 14 Juni 2007 Beikut ini:

Bakrie Grup semakin serius menggarap proyek Kawasan Sidoarjo Baru (Kasiba), sebagai alternatif relokasi bagi korban lumpur Lapindo Brantas Inc. Kawasan ini akan dibangun dengan konsep perimbangan antara kawasan pedesaan lengkap dengan sawah dan UKM, sekaligus menjadi kawasan elite, lengkap dengan lapangan golf dan cluster industri.


Proyek yang segera dibangun oleh anak perusahaan Bakrieland Development tersebut, memang belum secara terbuka diumumkan lokasi tepatnya. Tetapi kawasan tersebut terletak hanya sekitar lima kilometer dari Surabaya.


“Saat ini kita sudah bebaskan sekitar 50 persen lahan dari seluruh kebutuhan lahan. Bulan depan, kami perkirakan sudah 70 persen lahan yang bisa kami bebaskan,” kata Andi Darussalam Tabusalla, Vice President & Media Relation PT Minarak Lapindo Jaya (MLJ) usai menunjukkan gambar Kasiba di Sidoarjo, Rabu (13/6) petang.


Menurutnya, kawasan tersebut memang tidak dibangun khusus untuk warga korban lumpur, melainkan juga untuk umum. Kawasan ini akan menjadi salah satu gurita bisnis Bakrie Grup di bidang real estate.

“Kami menyediakan fasilitas yang sangat lengkap, karena kawasan hunian ini juga menyediakan areal persawahan, pekarangan, kawasan industri, UKM, sekolah, pondok pesantren, tempat ibadah, dan lain-lain. Di dalam kawasan ini juga akan dibangun lapangan golf. Konsep ini memadukan antara suasana desa dan kota, semua tercakup di dalamnya,” ujar Andi.


Bakrieland Development juga sudah memberikan nama untuk Kasiba ini, yakni Kahuripan Nirwana Village.

Sumber: Sinar Harapan/Kamis, 14 Juni 2007

4. Pemberian Proyek Jalan Tol Kanci-Pejagan di Kabupaten Cirebon Kepada PT. Bakrie Brother

Begini ceritanya

Tidak dapat dipungkiri, semburan lumpur panas di Sidoarjo ini telah memaksa Lapindo mengeluarkan uangnya guna memenuhi kewajiban dari pemerintah untuk membeli asset korban Lapindo.

Pertanyaan berikutnya tentu saja adalah apakah Lapindo rugi atau telah mengalami kebangkrutan?

Ternyata tidak, menurut Syaefudin Simon, dalam tulisanya yang berjudul ‘Lapindo Undercover’ menyebutkan bahwa bersamaan dengan pelaksanaan proses ‘ganti rugi’ terhadap korban Lapindo itu, pemerintah memberikan proyek jalan tol (Kanci-Pejagan di Kabupaten Cirebon) kepada PT. Bakrie Brother senilai Rp. 1.3 trilyun. Nilai proyek tersebut hampir sama dengan biaya ganti rugi warga Perumtas.

Anehnya, jaminan kredit Bakrie kepada sindikasi perbankan untuk membangun jalan tol itu adalah garansi pemerintah.

Sumber: Lapindogate, Skandal Industri Migas, 2007

17
Jul
08

Andai Aku Jadi Presiden Republik Indonesia

Pemilu Presiden sebentar lagi. Orang-orang yang mengaku sebagai tokoh  nasional seperti Megawati Soekarnoputri, Yusril Ihza Mahendra, Prabowo Subianto, Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, Sutiyoso, Akbar Tandjung, Sri Sultan Hamengkubuono dan masih banyak lagi yang lain dikabarkan sudah mulai pasang ‘kuda-kuda” untuk menghadapi perebutan kepemimpinan nasional di negeri ini. Aku sebagai bagian dari bangsa Indonesia pun tak mau kalah dengan mereka, aku juga ingin berebut kursi RI-1 seperti mereka.

————————————————-

Aku bosan melihat rakyat selalu menjadi tumbal kemehawan hidup para elite politik dan ekonomi di negeri ini seperti yang kini dialami oleh korban Lapindo di Sidoarjo.  Untuk itu jika aku dipilih menjadi Presiden maka aku akan:

1.  Memindahkan kantor Presiden ke Surabaya agar aku dapat memantau perkembangan semburan lumpur Lapindo.

2. Mengunci pintu rapat-rapat  Istana untuk Aburizal Bakrie dan keluarganya agar negara tidak lagi dibajak oleh korporasi yang terkait dengan semburan lumpur Lapindo.

3. Menyita asset group Bakrie untuk membiayai ganti rugi korban Lapindo secara adil dan menutup semburan lumpur Lapindo.

4. Menyeret  ke penjara para petinggi Lapindo bahkan jika perlu Aburizal Bakrie guna mempertanggungjawabkan munculnya semburan lumpur Lapindo yang telah menyengsarakan rakyat Sidoarjo.

Namun, siapa yang akan memilih aku? Kalau aku ga kepilih jadi Presiden, akankah para calon Presiden seperti Megawati Soekarnoputri, Yusril Ihza Mahendra, Prabowo Subianto, Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, Sutiyoso, Akbar Tandjung, Sri Sultan Hamengkubuono itu akan berani dan tegas terhadap korporasi yang bernama PT. Lapindo? Atau akan mengulang perbuatan nista para petinggi negeri ini saat ini yang secara berjamaah ‘bersujud’ kepada berhala korporasi PT. Lapindo Berantas?

01
Jul
08

Gallery ‘Kebiadaban’ Lapindo