Archive Page 2

25
Sep
08

Kali Porong Nasibmu kini………………..

Semburan lumpur Lapindo tidak hanya ‘berhasil’ dengan gemilang mengusir warga dari kampungnya namun juga telah sukses menghancurkan ekosistem sungai (kali) Porong. Bukan hanya biota dari kali Porong yang berhasil dihancurkan namun juga sawah-sawah penduduk akibat rembesan lumpur Lapindo yang dibuang di kali itu.

Bahkan seiring dengan datangnya musim hujan, pendangkalan kali Porong akibat lumpur Lapindo diperkirakan akan memicu banjir di kawasan Sidoarjo hingga Surabaya. Pertanyaannya adalah siapa yang harus bertanggungjawab atas malapetaka lingkungan hidup itu?

———————————————————–

Sumber Foto: Google Earth

Sumber Photo: http://cetak.kompas.com

Sumber foto: www.satudunia.net

Sumber Foto: www.satudunia.net

Sumber Foto:http://picasaweb.google.com/nantoprasetyo/

Sumber Foto:http://picasaweb.google.com/nantoprasetyo/

Sumber Foto:http://picasaweb.google.com/nantoprasetyo/

Sumber Foto:http://picasaweb.google.com/nantoprasetyo/

Seperti yang ditulis KOMPAS edisi 25 September 2008, beberapa waktu belakangan kolam penampungan lumpur mendekati penuh dan tanggul terancam jebol. Karena itu, sejak minggu kedua September seluruh semburan lumpur Lapindo— 100.000 meter kubik per hari—dibuang ke Sungai Porong. Akibatnya, aliran air sungai terhenti terutama di bawah jembatan tol Porong-Gempol sehingga air tertahan dan permukaan air sungai meninggi.

Dampaknya, air bercampur lumpur merembes ke sawah dan pekarangan warga di sekitar Sungai Porong, yaitu di Desa Pejarakan dan Desa Besuki. Kedua desa yang sudah dimasukkan ke dalam peta terdampak lumpur Lapindo tersebut masih dihuni karena warga belum mendapat ganti rugi. Warga khawatir terjadi banjir saat musim hujan nanti.

Lantas siapa yang pantas dimintai pertanggungjawaban atas hancurnya ekosistem dan sistem hidrologi Kali Porong tersebut?

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sumber: http://www.presidenri.go.id

Wakil Presiden Jusuf Kalla, sumber Foto: aco.web.id

Menko Kesra Aburizal Bakrie, sumber Foto :http://www.greatpriceshere.com

Ketua Dewan Pengarah BPLS dan Menteri PU Djoko Kirmanto, sumber Foto: www.inkindo-kalbar.org

Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar, sumber Foto: http://www2.kompas.com/

24
Sep
08

Tuan Aburizal Bakrie, Tidakah Kau Lihat Derita Korban Lapindo?

Sumber Foto: http://www.kapucino.org/2008/05/29/ical-for-president/

Adalah Ical, panggilan akrab Aburizal Bakrie, berkali-kali membantah keterkaitannya dengan Lapindo di berbagai media massa meskipun berkali-kali pula media massa mendokumentasikan pembelaannya terhadap Lapindo.

Terlepas dari itu semua Ical adalah seorang Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra) yang harusnya lebih peka terhadap penderitaan rakyat. Saat ini ribuan warga Porong tengah hidup dalam penderitaan yang berkepanjangan sejak munculnya semburan lumpur Lapindo. Apakah Mr. Ical juga melihat dengan mata dan hatinya terhadap penderitaan warga korban Lapindo?

———————-

Tuan Aburizal Bakrie,

Tidakkah engaku melihat pilunya hati Ibu Mutomaroh, warga Kedung Bendo, yang usahanya hancur akibat semburan lumpur Lapindo?  Sebelum semburan lumpur Lapindo, Ibu Mutomaroh adalah pengrajin perhiasan emas.

Biasanya di hari Idul Fitri, ia mampu memberi Tunjangan Hari Raya (THR) bagi keenam anak buahnya. “Sekarang usaha saya sudah gulung tikar. Untuk pengeluaran hari raya saja sudah susah,” ujarnya seperti ditulis dalam bulletin Kanal edisi II tahun 2008.

Hingga bulan Agustus 2008 ini sisa uang 80% yang dijanjikan Lapindo belum juga dibayar. “Padahal uang itu rencananya untuk kembali memulai usahanya kembali,” tuturnya.


Tuan Aburizal Bakrie,

Tidakkah kau lihat bahwa lumpur Lapindo bukan hanya mengancurkan produktivitas ekonomi warga namun juga telah mengancam keselamatan hidupnya?


Tuan Aburizal Bakrie,

Jika kau sempat bertandang ke Porong, cobalah buka kaca atau pintu mobil mewahmu itu. Pasti bau busuk dari lumpur Lapindo segera menyergap hidungmu.

Tuan Aburizal Bakrie,

Jika kau bertandang ke Porong, cobalah singgah sebentar di rumah warga yang bapak, ibu, kakak, adik, paman dan anaknya meninggal dunia akibat gangguan pernafasan sejak munculnya semburan lumpur Lapindo.


Tuan Aburizal Bakrie,

Bukankah kau adalah Menko Kesra?

Tidak cukupkah penderitaan warga Porong akibat semburan lumpur Lapindo itu mampu membuka mata dan hatimu?

Haruskah kau menunggu seluruh warga Porong meninggal dunia untuk mampu membuka mata dan hatimu? Haruskah seluruh rakyat di negeri ini memaksa Presiden Yudhoyono untuk mendepakmu dari kursi kabinet agar kau mampu membuka mata dan hatimu terhadap korban Lapindo?

23
Sep
08

Photo Bicara; Kebencian Warga Terhadap Lapindo

Coretan di dinding membuat resah..

Resah hati pencoret mungkin ingin tampil

Tapi lebih resah para pembaca coretannya..

Karena coretan dinding adalah pemberontakan…

(Iwan Fals, Coretan Dinding)

Coretan warga di dinding, kaca rumahnya dan di spanduk berikut ini menunjukan bahwa kebencian terhadap Lapindo telah mencapai puncaknya. Bagaimana tidak, sebelumnya para korban Lapindo ini adalah masyarakat biasa yang menikmati kehidupan kampung yang penuh gotong royong. Mereka tidak memiliki kesalahan apapun dengan Lapindo ataupun Group Bakrie..Namun kini lumpur Lapindo telah menghancurkan rumah dan kampungnya..

Kini kampung itu telah mati..tidak ada lagi kehidupan..semua telah sirna oleh lumpur Lapindo..

Wajar saja bila mereka kini mengungkapkan kebencian dan pemberontakannya melalui coretan-coretan di dinding dan spanduk..

Wahai petinggi Lapindo dan juga group Bakrie, apakah kalian masih memiliki mata hati untuk sejenak membaca coretan mereka?

16
Sep
08

Mr. Yudhoyono, Bukankah Anda Orang yang Taat Beragama?

sumber photo: http://www.presidenri.go.id

Mr. Yudhoyono, Presiden Republik Indonesia, memang bernasib agak sial. Setelah dipermalukan karena kasus blue energi dan binih padi, kini ia dipastikan akan menanggung malu lagi setelah menterinya mengikuti seruan iklan Lapindo, menyerah dalam menghentikan semburan lumpur Lapindo.

Asumsi dasar yang membikin pemerintah keok (menyerah) dalam mengatasi semburan lumpur lapindo adalah bahwa semburan lumpur panas itu adalah bencana alam sehingga tidak bisa dihentikan. Persis seperti bunyi iklan-iklan Lapindo di berbagai media massa.

_______________________________________

Mr. Yudhoyono,

Bukankah anda seorang yang taat menjalankan ibadah agama? Lantas mengapa anda ikut-ikutan menjadikan Tuhan sebagai kambing hitam dalam malapetaka lumpur Lapindo?

Mr. Yudhoyono,

Tidakah anda membaca hasil penelitian dari pakar independent dari dalam dan luar negeri yang mengatakan bahwa semburan lumpur itu bukanlah bencana alam?


Mr. Yudhoyono,

Tidakkah anda membaca laporan audit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang juga mengatakan bahwa semburan lumpur Lapindo bukanlah bencana?


Mr. Yudhoyono,

Tidakkah anda mendengar para pakar teknologi pengeboran kita yang dengan optimis menyatakan bahwa semburan lumpur Lapindo dapat ditutup karena semburan itu bukanlah bencana alam seperti yang diserukan oleh iklan Lapindo?


Mr. Yudhoyono,

Tidakkah anda melihat kerugian negara, kerugian rakyat jika pemerintah menyerah dalam menghentikan semburan lumpur Lapindo?


Mr. Yudhoyono,

Tidak cukupkan uang rakyat dalam APBN yang telah dikucurkan untuk menyubsidi Lapindo dalam persoalan lumpur panas ini?


Mr. Yudhoyono,

Tidakkah anda tahu bahwa dengan keputusan pemerintah menyerah untuk menghentikan semburan lumpur Lapindo itu berarti anda akan lebih banyak lagi mengucurkan uang rakyat di APBN untuk menyubsidi Lapindo? dan itu artinya anda telah menjadikan seluruh rakyat Indonesia sebagai korban Lapindo?


Mr. Yudhoyono,

Mengapa anda begitu pemurah dan sayang sekali terhadap Lapindo? Apakah karena keberadaan Aburizal Bakrie di jajaran kabinetmu membuat anda mengikuti seruan iklan Lapindo?


Mr. Yudhoyono,

Sebagai rakyat kecil, kami hanya menyerukan kepada anda untuk berhenti menjadi korban iklan Lapindo.


Mr. Yudhoyono,

Sebagai rakyat kecil, kami hanya mengingatkan bahwa pada pemilu 2004 yang lalu anda diberi amanat untuk melindungi seluruh rakyat Indonesia, termasuk rakyat di Sidoarjo yang kini menjadi korban Lapindo. Anda sama sekali tidak diberi amanat untuk melindungi kepentingan korporasi pertambangan.


02
Sep
08

Lapindo Abaikan Kelestarian Kali Porong

Skenario pembuangan lumpur ke Kali (sungai) Porong adalah indikasi bahwa Lapindo Brantas Inc (LBI) mengabaikan faktor lingkungan dan memakai scenario yang paling sedikit mengeluarkan biaya, dengan membuang lumpur langsung Ke sungai maka LBI tidak menggeluarkan biaya untuk pengelolaan air lumpur. Tulisan lengkap dapat diunduh (download) di bawah ini.

bencana-baru-di-kali-porong_ecoton_prigi1

27
Aug
08

Foto Pernikahan Adinda Bakrie dan Korban Lapindo

Sumber:

1. Foto Pernikahan Adinda kaskus.us dan detik .com

2. Foto Korban Lapindo, http://www.korbanlumpur.info

27
Aug
08

Guru Besar ITS Surabaya: Lumpur Lapindo Akibat Salah Prosedur

Semakin banyak saja pakar yang berpendapat bahwa semburan lumpur panas di Sidoarjo akibat kesalahan prosedur yang dilakukan oleh PT. Lapindo Brantas. Guru Besar Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berpendapat bahwa semburan lumpur itu akibat kesalahan prosedur Lapindo

____________________________

Guru besar jurusan Kimia F-MIPA ITS Surabaya, Prof RY Perry Burhan menyatakan, luapan lumpur di kawasan eksplorasi Lapindo Brantas Inc terjadi akibat adanya salah prosedur.

“Lapindo tidak salah dalam eksplorasi, karena di bawah permukaan tanah memang benar ada minyak yang dicari,” kata mantan anggota tim bawah permukaan ITS untuk penanganan lumpur panas itu kepada ANTARA News di Surabaya, Selasa.

Bahkan, katanya, Lapindo sebenarnya sudah mengetahui adanya “diapir” (rongga gelembung di perut bumi), sehingga pengeboran harus menghindari “diapir”. Sebab bila pengeboran minyak dilakukan tepat di atasnya akan terjadi luapan.

“Tapi, Lapindo tidak tahu ada dimana titik diapir itu, apalagi Lapindo tidak menggunakan casing. Padahal, dua hari sebelumnya (27/5/2006) terjadi gempa di Jogjakarta,” katanya mengungkapkan.

Menurut guru besar bidang Geo Kimia Organik itu, luapan lumpur yang terjadi sangat mungkin akibat gesekan dari gempa Jogjakarta, namun hal itu takkan terjadi bila Lapindo melakukan pengeboran dengan menggunakan casing (selubung).

“Pengeboran tanpa casing untuk permukaan bawah tanah yang memiliki diapir akan berbahaya,” katanya.

Ia mengatakan, lumpur panas akan terhambat untuk meluap ke atas bila pengeboran Lapindo menggunakan casing saat melakukan pengeboran.

“Tanpa adanya casing membuat lumpur yang berasal dari endapan darat dari kedalaman 4.000-6.000 kaki itu, akhirnya meluap dari rongga di kawasan yang banyak memiliki patahan itu,” katanya menjelaskan.

Secara geologis, katanya, Lapindo tidak salah dalam melakukan eksplorasi. Namun, Lapindo secara teknis telah melakukan salah prosedur, karena sudah mengetahui adanya “diapir” di kawasan itu.

Senada dengan itu, Ketua Pusat Studi Bencana (PSB) LPPM ITS Surabaya, Dr Amin Widodo mengemukakan, banyak peneliti asing seperti dari Inggris dan Norwegia menyimpulkan, penyebab lumpur panas di Porong merupakan akibat dari proses pengeboran yang tepat di titik “diapir.”

“Titik diapir itu akan menyembur (meluap) dengan sendirinya bila terjadi gesekan dan tekanan. Tapi belum tentu terkait dengan gempa di Yogyakarta, karena gempa Jogjakarta pada 27 Mei 2006 berjarak jauh dari lumpur Lapindo yang muncul pada 29 Mei 2006,” katanya.

Lapindo dalam keterangan pers pada 15 Juni 2006 menyatakan, pihaknya mengebor sumur Banjar-Panji-1 dengan memasang casing hingga kedalaman 3.580 kaki, namun mulai kedalaman 3.580 sampai 9.297 kaki “belum” memasang casing.

Rencananya, casing akan dipasang di kedalaman batas antara formasi Kalibeng Bawah dengan formasi Kujung dengan titik temu di kedalaman 9.297 kaki.

Menurut Andang Bachtiar dari IAGI, pihaknya tidak mengenal teknik pengeboran lapisan bumi dengan menembus lapisan terlebih dulu dan setelah tembus (terbuka) lalu casing diturunkan untuk menahan lubang agar tidak runtuh.

“Teknik seperti itu tidak dikenal, apalagi surat Medco (pemegang saham) nomer MGT-088/JKT/06 sudah bocor ke media massa bahwa Medco pada 18 Mei 2006 sudah mengingatkan Lapindo (operator) untuk konsisten pada program, yaitu memasang casing 9-5/8 inchi di kedalaman 8.500 kaki (melindungi lubang 3.580-8.500 kaki),” katanya.

Hingga kini, penyidik Polda Jatim telah menetapkan tujuh BAP untuk 13 tersangka, diantaranya Imam P Agustino (GM Lapindo), Yenny Nawawi (Dirut PT Medici), dan Nur Rohmat Sawulo (Vice President Drilling Service PT Energi Mega Persada), namun BAP masih “bolak-balik” polisi-jaksa. (*)
Sumber: http://www.antara.co.id/arc/2007/9/11/its-lumpur-lapindo-akibat-salah-prosedur/